Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label makanan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 03 April 2013

Tempat nongkrong wajib di kota Batu.



Ada tempat nongkrong wajib saat traveling ke Kota Batu, Pos Ketan namanya. Berada di Alun-alun Batu, kios kecil ini selalu dipenuhi orang yang memesan aneka jenis ketan. Anda pun bisa merasakannya sendiri.

Pos Ketan berada kawasan Alun-alun Batu. Hampir setiap hari, tempat ini selalu dipenuhi orang, baik warga lokal Batu atau pun wisatawan.

detikTravel pun sempat berkunjung langsung ke Pos Ketan Kamis (28/3/2013) malam lalu. Saat itu saya dan beberapa rekan wartawan sengaja berkunjung ke Alun-alun Batu untuk mencari kudapan malam.

Dari kejauhan, sudah tampak antrean panjang di depan Pos Ketan. Puluhan bangku yang disediakan pun penuh diisi pengunjung. Menegok ke warung, tertera tulisa nPos Ketan Legenda 1967. Oh ternyata warung ketan ini sudah ada sejak tahun 1967.

Tanpa ragu saya pun bergegas masuk ke dalam warung. Di bagian dalam ternyata tak kalah ramai. Banyak orang yang berdiri di dalam untuk memesan ketan.

Ada berbagai jenis olahan ketan yang dijual Pos Ketan, antara lain ketan keju susu, ketan keju cokelat susu, dan ketan serundeng. Harganya beragam mulai Rp 3.000-5.000/piring.

Ditanya ketan apa yang paling digemari, sang pelayan warung menjawab "Semua ketan disukai kok."

Saya pun menjatuhkan pilihan pada ketan keju susu. Selesai memesan, ternyata setiap pembeli akan diberikan nomor antrean. Saya pun mendapat nomor 67.

Setelah memegang nomor, saya langsung mencari tempat duduk. Agak susah memang, karena hampir seluruh tempat terisi pengunjung, dan kebanyakan anak muda bersama teman-teman satu geng.

Berkeliling cukup lama, akhirnya tempat lesehan menjadi lokasi saya dan teman-teman menunggu pesanan. Ditemani semilir angin dingin khas Kota Batu, saya mulai menikmati keramaian Pos Ketan.

"Nomor 56," teriak salah seorang pelayan yang akan mengantarkan ketan. Rupanya begini cara mereka memberikan pesanan.

Para pelayan akan berkeliling sekitar tempat duduk, dan memberikan pesanan. Telinga tentu harus selalu siaga agar ketan tidak terlewat.

sumber: travel.detik.com


Kamis, 21 Maret 2013

Si gurih dan kenyal, Papeda!

Papeda dan kuah ikan kuning
Beragam lauk lezat semakin nikmat saat dimakan bersama salah satu makanan pokok khas Papua, yaitu papeda. Saat melancong ke sini, jangan lupa mencoba makanan kental lezat yang satu ini ya!

Setibanya di Timika, Papua, saya dan tim Dream Destination Papua 2 istirahat sampai tiba waktunya makan siang. Sempat bingung untuk memilih menu untuk makan siang, setelah melihat daftar menu makanan terlihat ada menu yang wajib yang harus dicoba yaitu papeda.

Kurang lengkap rasanya kalau berkunjung ke Papua tidak mencoba menu yang satu ini. Maka dari itu saya berniat untuk mencoba menikmati hidangan papeda.

Papeda atau bubur sagu merupakan makanan pokok masyarakat papua. Papeda ini terbuat dari tepung sagu yang didapat dari pohon sagu pilihan.

Untuk mendapatkan tepung sagu, harus memeras sari pati sagu dari batangnya. kemudian baru bisa mendapatkan tepung yang dapat diolah menjadi papeda.

Papeda biasanya disajikan dengan ikan kuah kuning, yang berbumbu kunyit dan jeruk nipis. Ada pun menu tambahannya yaitu sayur kangkung dan bunga pepaya yang juga berkhasiat untuk mencegah malaria.

Nikmat sekali rasanya bisa menikmati papeda asli dari Papua. Bagi kalian yang berkunjung ke Papua jangan pernah melewatkan menu yang satu ini.

Es Krim Ragusa, dulu dan kini

Nama Ragusa berasal dari dua orang berkebangsaan Italia yang datang ke Indonesia pada tahun 1930-an, Luigie Ragusa dan Vincenzo Ragusa. Pada tahun 1932, Ragusa bersaudara mulai membuka kafe es krim di pasar Gambir (Jakarta Fair). Karena dinilai tempatnya terlalu sepi dan hanya ramai setahun sekali, tahun 1947 mereka membuka kafe di Jl. Veteran I No. 10 Jakarta Pusat, yang menjadi pusat pembuatan dan penjualannya sampai sekarang.
ragusa sekarang
 Selama menekuni bisnis es krim, dua bersaudara Italia tersebut dibantu Jo Giok Siaw. Ibu Hj. Sias Mawarni, menantu dari Jo Giok Siaw, dan suaminya yang meneruskan penjualan es krim ini.
Kedai es krim ini menempati bangunan bergaya khas Belanda beserta kursi-kursi yang terbuat dari rotan dengan model kuno dan meja yang sederhana sebagai pelengkapnya. Ruangan ini pun tidak menggunakan AC, hanya menggunakan kipas angin dan atap bangunan yang tinggi sehingga dapat mengurangi udara yang panas.
 Di sekeliling dinding, terdapat foto-foto hitam putih yang menggambarkan bagaimana rupa Es Krim Ragusa sebelumnya dan potret sudut-sudut kota Jakarta jaman dulu. Ada juga mesin kasir kuno dan tempat untuk menyajikan es krim yang antik. 

Spagheti Ice Cream, yummy!
Es krim Ragusa menggunakan bahan-bahan berkualitas mulai dari susu sampai bahan lainnya. Semuanya dibuat secara handmade, bukan diambil dari pabrik jadi kualitas akan tetap terjaga serta tidak menggunakan pengawet. Yang paling terkenal di sana adalah Spaghetti Ice Cream, es krim vanili yang disajikan berulir-ulir seperti tumpukan spaghetti dan diatasnya ditaburi kacang, coklat dan sukade.

Siapa tertarik? 

Sumber: unikgaul.com